Minggu, 05 Juni 2022

Tindakan Aksi Nyata Modul 3.1.a.10

 

Tindakan Aksi Nyata Modul 3.1.a.10

Pengambil Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

           

Yekti Eriani, S.Pd

CGP Angkatan 4 Kabupaten Sidoarjo

 

Peristiwa (Fact)

            Pelaksanaan pembelajaran tatap muka di SMP Negeri 3 Krian setelah pandemi berjalan dengan baik meskipun belum maksimal. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran untuk kelas 9 yang sudah mendekati akhir pembelajaran, muncul banyak masalah dan kendala terkait nilai-nilai para murid yang masih banyak belum menuntaskan tugas-tugasnya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru sebagai pemimpin pembelajaran untuk menghadapi permasalahan tersebut. Berawal dari keluhan bapak/ibu guru tentang adanya beberapa  murid yang masih belum menyelesaikan tugas dan tingkat kehadiran yang rendah, kami berkoordinasi dengan Kepala Sekolah, Waka Kurikulum, Guru BK dan bapak ibu guru untuk membahas serta merekap siapa saja murid yang bermasalah dan selanjutnya diadakan penanganan serta pencarian solusi yang terbaik. Ada beberapa masukan terkait permasalah murid-murid tersebut, beberapa berpendapat sebaiknya murid tersebut tidak diluluskan saja karena memang sudah banyak melanggar aturan sekolah, ada juga yang berpendapat untuk memberikan kesempatan dan diluluskan saja atas pertimbangan rasa kasihan.

 Menurut saya peristiwa ini menarik untuk dibahas karena sesuai dengan modul 3.1 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Berdasarkan permasalahan di atas saya melihat bahwa ada dilema etika yang dialami guru dan sekolah. Saya mencoba memberikan masukan kepada sekolah untuk melakukan identifikasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi murid berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dengan pendekatan melakukan demi kebaikan orang banyak serta prinsip Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).

Setelah kami melakukan identifikasi dan home visit, ditemukan fakta bahwa ada murid yang terkendala dalam menuntaskan tugas dikarenakan faktor ekonomi, permasalahan keluarga dan psikologi murid yang labil. Para murid tersebut sering tidak masuk sekolah karena mereka membantu orang tua untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan bekerja sehingga mereka tidak fokus dengan sekolahnya. Ada juga karena keluarganya broken home sehingga kurang perhatian dan kasih sayang orang tua. Bahkan ada murid yang mengalami gangguan psikologi dengan mengurung dirinya di kamar selama beberapa bulan. Dari hasil identifikasi kami berkoordinasi dengan guru BK, Wali Kelas, Wakil Kepala Sekolah dan staf kurikulum untuk mencari jalan keluar/solusi untuk kebaikan sekolah dan murid. Langkah yang pertama dengan memanggil orang tua, melakukan konseling kepada murid, melakukan konferensi kasus dengan Kepala Sekolah, kemudian mencari solusi bersama untuk para murid tersebut agar bisa lulus dengan tetap bertanggung jawab memenuhi kekurangan tugas-tugasnya.

Konferensi kasus bersama Kepala Sekolah, Guru BK, Wali kelas, dan Orang tua

 

Konseling Individu

 

Rapat Koordinasi pengambilan keputusan

 


Rapat Bersama dewan guru untuk mengambil keputusan bersama

 

Dari hasil koordinasi bersama disepakai bahwa para murid yang bermasalah tetap diberi kesempatan untuk memperbaiki kekurangannya sebagai syarat untuk tetap bisa lulus dengan wajib menyelesaikan terlebih dahulu tugas-tugas yang akan diberikan. Dalam kesempatan tersebut saya mencoba memberikan alternatif solusi yaitu bapak ibu guru harus menyiapkan soal dan tugas untuk para murid bermasalah tersebut dengan grade soal yang lebih mudah dengan tujuan agar para murid dapat menyelesaikan tugasnya dengan lebih baik. Alasan saya mengambil keputusan tersebut adalah karena melihat latar belakang dari kasus-kasus yang dihadapi murid tersebut ternyata cukuplah kompleks. Alternatif solusi yang saya tawarkan pada akhirnya disepakati dan disambut baik oleh Kepala Sekolah serta bapak/ ibu guru sehingga permasalahan ini bisa teratasi dan menjadi jalan tengah terbaik untuk semua pihak. Langkah yang diambil dengan tetap memberikan tugas kepada murid tersebut sesungguhnya adalah upaya kami sebagai pemimpin pembelajaran yang harus mengajarkan kepada para murid tentang pentingnya bertanggung jawab terutama berhubungan dengan pendidikan dan masa depan mereka. Dengan memberikan kesempatan untuk tetap lulus berarti kami telah menujukkan usaha untuk mencegah para murid tersebut memikul beban yang bertambah berat untuk masa depannya.

 

Perasaan (Feelings)

            Perasaan saya sangat senang setelah berhasil menerapkan aksi nyata sesuai materi modul 3.1 dalam permasalahan nyata di sekolah, karena dengan menerapkan 4 pardigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan tersebut ternyata bisa memberikan solusi yang terbaik bagi semua pihak yaitu untuk para murid itu sendiri, orang tua murid, para guru, dan sekolah. Hal yang paling berkesan adalah saat para murid tersebut berusaha dan sanggup menyelesaikan tugas kelulusan yang diberikan oleh bapak/ ibu guru tepat waktu, bahkan beberapa diantaranya bisa menunjukkan hasil yang sangat memuaskan. Sehingga ketika Kepala Sekolah menyatakan di dalam rapat bersama Dewan Guru bahwa para murid tersebut dinyatakan layak untuk diluluskan, saya benar-benar sangat lega mengetahui keputusan tersebut.

 

 

Pembelajaran (Findings)

            Dari masalah tersebut beberapa hal yang dapat saya ambil sebagai bahan pembelajaran diantaranya adalah bahwa dengan pemahaman dan fokus yang baik terhadap masalah yang dihadapi (dan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, serta 9 langkah pengambilan keputusan) maka akan dapat diambil suatu keputusan yang diharapkan bisa diterima semua pihak sebagai solusi terbaik. Mencari solusi terbaik dari suatu masalah dengan cara pandang positif yang lebih berfokus pada kelebihan bukan terhadap kelemahan terbukti bisa memberikan ruang solusi cukup signifikan dalam menyelesaikan masalah ini. Memandang masalah hanya dengan berfokus pada kekurangan dapat menimbulkan masalah baru, tetapi sebaliknya dengan mengoptimalkan fokus pada kelebihan ternyata dapat menghasilkan solusi permasalahan yang terbaik.

 

Penerapan kedepan (Future)

            Menyelesaian masalah dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan ke depan diharapkan dapat menjadi budaya baru yang lebih sering digunakan untuk membantu mencari alternatif solusi terbaik. Pembudayaan tersebut bisa didorong untuk mulai disosialisasikan kepada rekan sejawat melalui berbagai diskusi penyelesaian masalah seperti dalam setiap kegiatan rapat dan koordinasi bersama.

Dengan lebih sering digunakannya budaya ini, guru sebagai pemimpin pembelajaran akan terlatih dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah terutama yang berkaitan dengan proses pembelajaran serta kegiatan pendukung lainnya di sekolah. Perubahan pola pikir dalam menghadapi masalah juga akan mulai mengarah ke cara pandang positif terhadap kekuatan dan potensi diri serta asset di sekitar lingkungan sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tindakan Aksi Nyata Modul 3.1.a.10

  Tindakan Aksi Nyata Modul 3.1.a.10 Pengambil Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran             Yekti Eriani, S.Pd CGP Angkatan 4...