Kamis, 30 Desember 2021

MODUL 1.4 AKSI NYATA


PENERAPAN  4 KATA AJAIB SEBAGAI BUDAYA POSITIF

DI SMPN 3 KRIAN

Yekti Eriani, S.Pd – CGP Angkatan 4 – Kab. Sidoarjo

 

Latar Belakang

            Mengingat bahwa tujuan dari pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada diri anak agar mereka sebagai manusia serta anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya dimana kita semua juga percaya dan meyakini bahwa tujuan penting sekolah adalah sebagai tempat pembentukan karakter agar para siswa sukses secara moral menjadi individu yang berbudi pekerti luhur dan sukses secara akademik menjadi individu berwawasan global serta mampu mengimplementasikan potensinya di masyarakat kelak, maka mutlak diperlukan rancangan program-program terbaik dalam proses pembentukan karakter di sekolah, salah satunya adalah melalui usaha Penerapan Budaya Positif dalam proses pembelajaran sehari-hari di lingkungan sekolah.

Dalam rangka menciptakan suasana lingkungan belajar yang baik dan dapat menumbuh kembangkan potensi diri para siswa secara maksimal, maka dibutuhkan suatu konsep budaya yang dapat mendukung terbentuknya karakter positif yang bisa menjadi dasar nilai-nilai fundamental dalam pengembangan diri para siswa. Salah satunya melalui penerapan 4 Kata Ajaib di lingkungan SMPN 3 Krian. Aksi nyata ini betujuan untuk lebih memaksimalkan lagi kekerabatan sosial agar semua merasa sebagai satu kesatuan utuh yang mampu maju dan bergerak bersama untuk berprestasi sebagai keluarga besar SMPN 3 Krian dalam menjalankan kegiatan pembelajaran sehari-hari

Deskripsi Aksi Nyata yang dilakukan

Budaya positif dengan penerapan 4 Kata Ajaib ini wajib diterapkan oleh siswa-siswi SMPN 3 Krian ketika berkomunikasi dengan Kelapa Sekolah, Guru Tenaga Pendidik, Staf Administrasi, para tamu sekolah, serta sesama siswa SMPN 3 Krian. Tahapan pengenalan 4 Kata Ajaib ini dilakukan dengan cara memasang poster-poster di tempat-tempat strategis yang mudah terlihat dan dibaca para siswa seperti di pintu gerbang sekolah, perpustakaan, kantin sekolah, ruang laboratorium sekolah, dan tempat-tempat strategis lainnya menggunakan bahasa yang lugas dan jelas, kemudian mulai disosialisasikan oleh Bapak/ Ibu guru.

Penerapan Budaya Positif diawali dengan membuat kesepakatan kelas guna menumbuhkan karakter disiplin positif yang kuat untuk mendorong motivasi intrinsik pada diri para siswa. Nantinya diharapkan para siswa secara sadar mau bertanggung jawab akan pilihan-pilihan yang telah disepakati bersama sebelumnya sebagai sebuah kesepakatan kelas, sedangkan peran guru adalah memberikan arahan dan bimbingan agar kesepakatan kelas tersebut dapat dijalankan sebaik mungkin. Salah satu program Calon Guru Penggerak dalam melakukan aksi nyata membangun karakter siswa adalah penerapan budaya positif melalui penerapan 4 Kata Ajaib di lingkungan sekolah yang diharapkan mampu  menumbuhkan budaya saling menghargai dan menghormati orang lain.

Kata “permisi” harus menjadi budaya untuk diucapkan setiap kali para siswa meminta kesempatan agar diberi jalan kepada teman atau warga sekolah yang lain. Hal ini harus dilakukan terutama di dalam kelas ketika para siswa saling berinteraksi dalam proses pembelajaran. Tujuan utama dari pengucapan kata ini adalah untuk membiasakan diri dalam menunjukkan rasa hormat dan saling menghargai antar sesama siswa.

Kata “tolong” harus menjadi budaya untuk diucapkan setiap kali para siswa meminta tolong atau bantuan kepada teman atau warga sekolah lainnya. Hal ini harus dilakukan terutama di dalam kelas ketika para siswa saling berinteraksi dalam proses pembelajaran. Tujuan utama dari pengucapan kata ini adalah untuk membiasakan diri dalam menunjukkan rasa saling membutuhkan antar sesama siswa.

Kata “terima kasih” harus menjadi budaya untuk diucapkan setiap kali para siswa menerima pertolongan atau bantuan dari teman atau warga sekolah lainnya. Hal ini harus dilakukan terutama di dalam kelas ketika para siswa saling berinteraksi dalam proses pembelajaran. Tujuan utama dari pengucapan kata ini adalah untuk membiasakan diri dalam menunjukkan rasa terima kasih dan penghormatan atas pertolongan atau bantuan yang diberikan oleh sesama siswa.

Kata “maaf” harus menjadi budaya untuk diucapkan setiap kali para siswa melakukan kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak kepada teman atau warga sekolah yang lainnya. Hal ini harus dilakukan terutama di dalam kelas ketika para siswa saling berinteraksi dalam proses pembelajaran. Tujuan utama dari pengucapan kata ini adalah untuk membiasakan diri dalam menunjukkan rasa tanggung jawab dan mau mengakui kesalahan terhadap orang lain terutama sesama siswa.

Berikutnya selama proses pembelajaran berlangsung seluruh siswa sepakat menerapkan 4 Kata Ajaib ini dalam aktivitas belajar mereka dan mulai mempraktekkannya. Di sini tampak antusiasme para siswa untuk menerapkan budaya positif tersebut terutama dalam kegaitan diskusi kelompok dan pemaparan hasil kerja masing-masing kelompok.

Diakhir pembelajaran siswa diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan atas pembelajatran saat itu dengan penerapan budaya positif yang telah mereka sepakati bersama.

 

Hasil dari Aksi Nyata yang dilaksanakan

                                    Pengimbasan materi budaya positif terhadap teman sejawat 

            Aksi nyata budaya positif diawali dengan pengimbasan kepada teman sejawat, hal ini dilakukan untuk memberikan semangat bahwa penerapan budaya positif sangatlah penting dilakukan untuk pembentukan karakter yang baik bagi para siswa. Pentingnya peran kita sebagai seorang guru yang harus mampu menuntun siswa kearah yang baik dengan penerapan disiplin positif dan motivasi. Disiplin diri dapat membuat seseorang menggali potensinya menuju sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna. Dengan kata lain disiplin juga mempelajari bagaimana kita mengontrol diri dan bagaimana menguasai diri untuk mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai. Membuat keyakinan sekolah atau  kelas juga sangat penting karena merupakan dasar dari penerapan budaya positif yang akan dijalankan bersama dengan penuh kesadaran oleh seluruh siswa di kelas tersebut.

 

Pembuatan keyakinan kelas dengan melibatkan siswa

 

            Diawali dengan penyampaian pendapat mengenai keyakinan kelas seperti apa saja yang diinginkan oleh para siswa untuk dijalankan ke depannya. Setelah keyakinan kelas mendapatkan kesepakatan bersama maka dilanjutkan dengan menguatkan keyakinan kelas tersebut dengan cara menuliskannya dalam bentuk poster-poster dan menempelkannya di dinding kelas agar semua siswa selalu dapat mengingat dan mempraktekkannya. 

 
Pembuatan banner-banner motivasi tentang budaya positif

            Penerapan kata “tolong” dalam kelas bisa dicontohkan ketika para guru meminta kepada para siswa untuk dibantu membersihkan papan selama proses pembelajaran berlangsung dan terlihat bahwa siswa dengan sukarela dan penuh kesadaran memberikan bantuan untuk membersihkan papan tulis bahkan terkadang saling berebut untuk memberikan bantuan tersebut.

Penerapan Budaya Positif di kelas melalui teladan dari  guru

            Ketika di tengah proses pembelajaran berlangsung dan terdapat siswa yang meminta ijin untuk ke kamar kecil yang terpaksa lewat di depan para guru, maka mereka dengan penuh keyakinan mengucapkan kata “permisi” sambil merendahkan sedikit posisi tubuhnya sebagai bentuk penghormatan dan kesadaran tata krama para siswa.

 

Siswa mampu menerapkan keyakinan kelas yang sudah dibuat

            Sedangkan ketika para siswa mendapati masalah antar teman sekelas, maka para guru harus mampu untuk mendamaikan mereka dengan berpegang pada keyakinan kelas yang telah disepakati untuk saling memaafkan dengan penuh kesadaran tanpa meninggalkan masalah baru  antar sesama teman dengan menyampaikan kata “maaf” atau “terima kasih”.

 

Posisi kontrol guru sebagai manajer

Hal ini bisa tercapai ketika para guru menyelesaikan masalah antar siswa dengan menerapkan Segitiga Restitusi (Menstabilkan Identitas, Validasi Tindakan yang Salah, Menanyakan Keyakinan) sehingga dapat dicapai penyelesaian yang terbaik tanpa menimbulkan masalah baru serta tercapai kesepakatan solusi yang disadari secara penuh oleh para siswa yang bermasalah tersebut tanpa adanya tekanan atau keterpaksaan.

Setelah 1 minggu penerapan di lingkungan SMPN 3 Krian, terdapat peningkatan antusisme para siswa mengucapkan kata “permisi” dan “tolong” dalam proses pembelajaran di kelas. Berdasarkan laporan Bapak/ Ibu rekan pengajar lainnya juga dirasakan peningkatan implementasi 2 kata tersebut walaupun lebih sering diucapkan dalam dialek bahasa Jawa menjadi “nuwun sewu”  untuk kata “permisi” dan “nyuwun tulung” untuk kata “tolong”. Tetapi setidaknya dalam kurun waktu yang singkat terlihat mulai tertanam budaya positif dalam perilaku dan ucapan para siswa.

 

Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan (kegagalan atau keberhasilan)

Dari usaha dan hasil yang dilakukan selama kurun waktu 1 minggu dalam usaha penerapan budaya positif tersebut didapati fakta bahwa ketika antar siswa menerapkan salah satu dari 4 Kata Ajaib tersebut terbentuk suasana yang lebih akrab dan timbul saling menghargai satu sama lain terutama ketika saling mengucapkan “terima kasih” atau “matur nuwun” dalam dialek bahasa Jawa, Dalam proses pelaksanaan memanglah tidak mudah butuh keteladanan dari bapak ibu guru dan konsistensi yang kuat. Masih banyak juga siswa yang canggung dalam menerapkannya terhadap sesama teman tetapi mereka sudah mulai menerapkannya terhadap Bapak/ Ibu guru walaupun sedikit terpaksa.

Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang

Berdasarkan hasil yang didapat selama 1 minggu tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan budaya positif ini dapat menciptakan suasana kondusif yang mendukung terciptanya atmosfer pembelajaran yang baik, terutama dengan mulai tampaknya sikap saling menghormati dan menghargai sehingga diharapkan ke depan mampu mereduksi gesekan antar siswa yang dapat menimbulkan masalah-masalah yang tidak diinginkan muncul dalam proses pembelajaran, seperti perkelahian, tawuran antar pelajar, atau perundungan siswa. Sehingga ke depan penerapan budaya ini akan terus disosialisasikan dengan lebih mengangkat dan menunjukkan hasil-hasil yang lebih positif lagi agar para siswa dapat lebih memahami pentingnya menerapkan 4 Kata Ajaib tersebut di lingkungan sekolah dan di masyarakat uumnya, salah satunya dengan memberikan predikat dan penghargaan bagi kelas paling kondusif dalam proses pembelajaran setiap bulannya atau dengan mengangkat sepasang Duta Kelas untuk lebih mensosialisasikan budaya positif ini di lingkungan SMPN 3 Krian.

Dokumentasi proses dan hasil pelaksanaan berupa foto-foto atau video-video singkat berikut caption/ narasi singkatnya.

Link youtube video aksi nyata : https://youtu.be/YjiJGQnIafo

Link youtube proses pembuatan keyakinan kelas : https://youtu.be/oZkePQ67Fkc

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tindakan Aksi Nyata Modul 3.1.a.10

  Tindakan Aksi Nyata Modul 3.1.a.10 Pengambil Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran             Yekti Eriani, S.Pd CGP Angkatan 4...